Kanker Payudara Pada Remaja

Blog Dokter – Dari waktu ke waktu, pasien kanker payudara di Indonesia terus tumbuh. Mengkhawatirkan, beberapa tahun terakhir mulai menyerang pasien kanker payudara di kalangan anak muda. Mitos mengatakan bahwa kanker payudara sering mempengaruhi perempuan yang berusia di atas 30 tahun, tampaknya bisa dipecahkan. Masalahnya, sekarang pasien kanker payudara berusia semakin bergeser ke anak laki-laki, wanita yang lebih muda besar alias baru (ABG).

Hal itu diungkapkan oleh seorang ahli bedah spesialis, Konsultan Onkologi, dr. Daan Khambari, SpB (K) Onk, untuk Padang Ekspres kemarin (13 / 1).
Data yang dikumpulkan oleh Dr M Djamil di Padang, pasien kanker payudara banyak usia relatif muda. Bahkan, tidak sedikit wanita muda memasuki masa dewasa dengan tumor di payudara. Hal ini tentu saja menyedihkan dan mengganggu. “Terakhir kali saya menangani itu 22 tahun. Itulah masalah yang kita alami hari ini,” kata Dr Daan.

Daan mengungkapkan, sekali saat ia menjalani profesi medis masih baru, sekitar 40 tahun lalu, pasien kanker payudara masih didominasi oleh perempuan berusia di atas 35 tahun. Tumbuh tahun, usia pasien, bukan terus menurun. “Mulai lima tahun terakhir, kasus di bawah 25 tahun tumbuh,” katanya.

Faktanya adalah, ia menjelaskan, tidak diketahui karena penyebab pasti kanker terkait dengan penyakit multifaktorial. Tapi yang paling dari semua, tegas Daan, terkait dengan orang gaya hidup (lifestyle), terutama makan makanan yang tidak sehat (junk food), merokok, alkohol atau bisa juga karena perkawinan terlambat dan faktor risiko lainnya.

“Hari ini banyak wanita lebih peduli dengan karir sehingga terlambat untuk menikah. Hal ini juga akan menjadi faktor risiko karena mereka mungkin memiliki anak di usia 35 tahun ke atas,” kata Daan juga ahli onkologi di departemen M Djamil Padang.

Daan berpendapat, semakin tinggi tingkat penderita kanker payudara di Indonesia juga karena rendahnya kesadaran perempuan untuk deteksi dini kanker payudara dengan mamografi payudara skrining atau biasa disebut alat. “Berikut ini adalah pemeriksaan Pap smear lebih akrab untuk pencegahan kanker serviks dibandingkan amografi,” katanya.

Di negara lain, katanya, upaya deteksi dini telah menjadi program nasional. Di Jepang misalnya, ketika penduduk berusia 40 tahun wanita tua, ia secara otomatis mendapatkan voucher dari pemerintah untuk menjalankan mamografi di rumah sakit. Sementara sebagian besar negara di Eropa, perusahaan telah rutin asuransi check-up mamografi dalam klaim kesehatan.

“Gejala kanker payudara tidak ada Sekitar 60% pasien kanker payudara di Indonesia baru menyadari ketika penyakitnya sudah memasuki stadium lanjut.. Nah, jika deteksi dini dilakukan, tentu saja, dapat mencegah penyakit semakin parah,” kata Daan.

Terkait dengan jumlah penderita di Indonesia, Daan terang, sampai sekarang belum diketahui pasti. Yang ada, hanya data per rumah sakit. Dr M Djamil Dalam misalnya, rata-rata setiap bulan datang sekitar 50-60 pasien baru. Dibandingkan dengan dunia, peningkatan jumlah penderita di negara ini hampir sama.

Namun, perhatian di Indonesia dan di negara-negara berkembang lainnya, kelangsungan hidup (survival rate) yang rendah karena mereka hanya menerima pengobatan medis saat sudah dalam stadium lanjut. “Jika di negara maju masih merupakan tahap awal sudah ditangani, sehingga tingkat kelangsungan hidup lebih baik,” jelasnya.

Oleh karena itu Daan berharap pemerintah untuk lebih memperhatikan masalah ini. Tidak hanya pemerintah, ia juga mendesak sektor swasta dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) peduli tentang hal itu bergerak dengan mengatasi masalah ini. “Meskipun tidak merasakan gejala apapun, itu adalah tes mamografi wajib bagi wanita di atas usia 35 tahun,” tambahnya.

Selain itu, terus bekerja sama dengan berbagai pihak dalam upaya untuk mendidik masyarakat umum masalah kesehatan yang berhubungan dengan perempuan, khususnya kanker payudara, mengingat masalah kanker adalah momok yang harus ditangani dengan baik menakutkan.

Kanker payudara merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting. Kanker payudara di Indonesia berada di peringkat terbesar kedua setelah kanker serviks. Sayangnya kanker payudara di Indonesia sering ditemukan pada stadium lanjut.

Itulah dasar mengapa beberapa orang yang sekarang membuat sosialisasi terus menerus tentang apa dan bagaimana untuk mengetahui pengobatan kanker payudara dini berikut.

“Bagi orang yang telah divonis menderita kanker payudara, jangan putus asa. Sekarang ada banyak cara yang bisa diambil, perkembangan teknologi di bidang medis sangat membantu,” kata Daan.

Daan mengatakan bahwa jika diketahui dini kanker payudara, kanker jaringan yang terkena dapat dihapus. Selain itu, temuan terbaru dari WHO setiap tahun ada tujuh juta orang dengan kanker payudara dan lima juta orang tewas. Sementara di departemen M Djamil Padang menurut Daan, seorang pasien baru penyakit ini setiap bulan di M Djamil mencapai 50-60 orang.

Oleh karena itu, wanita yang menunda (tertunda atau dipaksa) untuk memiliki anak akan terkena estrogen dalam proporsi yang lebih tinggi, dan dengan sendirinya akan meningkatkan risiko kanker payudara. Terapi penggantian hormon, yang digunakan oleh jutaan wanita setiap tahun untuk melawan gejala-gejala menopause, juga menjadi penyebab lain.

Hampir setengah dari mereka yang didiagnosis dengan kanker payudara antara usia 50-69 tahun. Namun demikian, para ahli medis ingin menekankan juga bahwa pengobatan kanker payudara telah meningkat pesat dibandingkan 10 tahun lalu. “Perempuan yang mengembangkan kanker payudara lebih banyak, tetapi kelangsungan hidup mereka juga meningkat berkat terobosan dalam kesadaran tentang kanker payudara, skrining, dan pengobatan,” kata Andalas alumni Universitas.

Selain itu dokter bedah juga mengatakan, lebih dari 40 persen kasus kanker payudara dapat dicegah jika perempuan mengubah gaya hidup mereka. “Pencegahan harus datang dari dua sumber yaitu komitmen kepada pasien tentang penyebab kanker payudara, dan perempuan sendiri harus membekali diri dengan informasi tentang risiko penyakit ini,” katanya.

Menurut dia, banyak olahraga dan mengonsumsi makanan kaya serat namun rendah lemak membantu jenuhdapat mempertahankan berat badan yang sehat. Dapat mengurangi risiko kanker payudara. Pada masalah menunda kehamilan, tentu ini bukan masalah bagi perempuan yang kondisi sehat. Tapi apa tentang wanita yang dipaksa untuk menunda kehamilan karena tidak memiliki pasangan, menikah di usia muda tidak lagi, atau mengalami kesulitan hamil? Haruskah mereka juga harus disalahkan.

Seorang pasien M Djamil Padang, Eparina,, 36 warga RT 03/RW 10, Banuaran Indah, keluarahan Banuaran Lubukbegalung Padang Distrik, yang mengembangkan kanker payudara, saat ini mengalami kelumpuhan karena kanker telah mencapai stadium empat.

Suaminya hanya bisa menemani istrinya duduk sebagai jalur untuk penyakit istrinya dianggap terlalu terlambat untuk mencegahnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s